23 October 2018

Menekan Stunting, Menteri Desa Imbau Manfaatkan Dana Desa

Pernah mendengar kata stunting? Jika belum, inilah pengertian stunting. Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain (yang seusia). Stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi. Namun gejala stunting ini baru muncul ketika bayi tersebut berusia sudah dua tahun. 

Selain disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada balita maupun ibu hamil, stunting juga dikarenakan oleh banyak hal. Termasuk kurangnya pengetahuan bagi ibu hamil tentang stunting, baik sebelum maupun setelah melahirkan. Lalu, terbatasnya layanan yang ada di wilayah ibu hamil tersebut juga membayangi munculnya stunting pada anak. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kurangnya akses air bersih bagi masyarakat. Maka, dalam jangka waktu 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak inilah seorang balita harus benar-benar mendapatkan perhatian ekstra dari orang tua. 


Stunting menjadi masalah yang serius, karena di masa depan anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Di tahun 2018 ini, tak kurang dari 9 juta anak Indonesia terkena penyakit stunting ini. Hal tersebut juga membawa dampak pada perekonomian negara, sebab Indonesia harus memberikan waktu dan anggaran untuk penanganan stunting. Hasil riset yang dilakukan Bank Dunia menyebutkan bahwa kerugian ekonomi Indonesia mencapai 300 sampai 1.210 triliun rupiah per tahunnya. 

Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar segera menindaklanjuti apabila ditemukan gejala stunting pada anak mereka. Di antaranya yaitu kondisi pubertas anak terlambat, lalu pada usia 8-10 tahun anak menjadi pendiam, memori dan perhatian anak terhadap belajar semakin memburuk, wajah yang tampak lebih muda dari usianya, pertumbuhan gigi terlambat, dll. Dengan adanya gejala-gelala yang dialami para penderita stunting tentu membawa efek bagi penderitanya seperti gambar di bawah ini. 


Melihat kenyataan di atas, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mendorong pemerintah desa untuk ikut menekan tingginya angka stunting di Indonesia. Melalui dana desa, penanganan stunting harus diprioritaskan dalam penganggaran APBDes.  Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh desa untuk mengatasi gejala stunting yang terjadi pada masyarakat. Di antaranya yaitu mengalokasikan dana desa untuk kegiatan berikut ini:

  1. Air bersih berskala desa
  2. Sanitasi lingkungan 
  3. Bantuan insentif kader kesehatan 
  4. Pelatihan kader kesehatan masyarakat 
  5. Transport kader kesehatan 
  6. Perawatan dan/atau pendampingan ibu hamil dan menyusui
  7. Pemantauan dan pemberian makanan tambahan untuk balita
  8. Pengadaan Poskesdes dan Penyelenggaraan gerakan masyarakat sehat (Germas) 
  9. Kampanye hidup sehat 
  10. Dll


Nah, banyaknya program yang diberikan Pemerintah kepada masyarakat diharapkan mampu mengurangi angka stunting yang ada di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Desa PDTT mengimbau agar penggunaan dana desa turut mengambil bagian dalam upaya menanggulangi masalah yang satu ini. 

Baca juga Mata Lelah? Sempatkan Kompres Dengan Air Membuat Mata Lebih Sejuk


EmoticonEmoticon