05 July 2018

Hidup Tanpa Kepentingan

Tags

Di penghujung senja, dua orang sahabat muda sedang asyik bercengkerama di tepian jalan yang berlatarkan suara kendaraan yang berlalu lalang. Dua cangkir kopi hitam yang lumayan kental turut menghiasi obrolan yang semenjak tadi kadang terputus oleh selingan handphone yang menyala di telapak tangan. Aroma kopi tercium merangsek ke rongga-rongga kerongkongan.

Perbincangan demi perbincangan akhirnya mengerucut pada keheranan salah seorang dari mereka berdua terhadap fenomena yang dialami orang gila yang ada pinggiran jalan. Mereka hanyut dalam nuansa takjub tak terhingga, apakah gerangan yang menyebabkan si gila jarang terlihat jatuh sakit. Meski manusia sehat sama-sama tahu bahwa para tuna grahita itu tidak peduli dengan pola hidup sehat yang dianut oleh lumrahnya manusia. Mereka itu tak takut makan sembarangan hanya untuk menghindari perut mencret demi terpenuhinya masalah perut lapar. Mereka tak khawatir terkena penyakit gatal meskipun berhari-hari tak menyempatkan mandi.

Gambar Ilustrasi

Pada akhirnya, percakapan tadi berujung pada sebuah kesimpulan yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Adalah terbebasnya alam pikiran manusia gila dari kepentingan-kepentingan yang mengikatnya. Keharusan-keharusan yang dimiliki oleh orang waras untuk segera dikerjakan, tak ada di benaknya. Sehingga terbebaslah ia dari tekanan batin dan pikir. Mereka tak pernah ingin mengejar waktu yang selalu dilakukan oleh manusia. Kehidupan sederhana inilah yang membuat daya tahan tubuhnya tak terbebani konsentrasi yang begitu hebat beratnya.

Sekarang, mari kita sejenak merenungi kegundahan manusia. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik daya pikirnya dipaksa untuk menyelesaikan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Tak jarang kita jumpai orang yang berjasmani sehat bugar tapi rapuh disebabkan beban pikiran yang dahsyat. Belum lagi ketika seseorang tadi dibenturkan pada kepentingan orang lain. Dari depan mengancam, belakang menjegal, atas menghantam dan dari samping mendompleng. Alangkah semakin menciutnya volume pikir manusia. Sementara di seberang jalan sana, ada seseorang secara kasat mata sedang sakit jiwa, tapi dia telah membebaskan alam pikirnya.

Mari gila! Upsss!.

Baca juga Mari Dukung Asian Games XVIII


EmoticonEmoticon