Sunday, June 3, 2018

Panduan Bukber Ala Sekdes Jatirogo Yang Boleh Ditiru Boleh Tidak

Tags

Di suatu siang yang panas saat bulan puasa, di dalam group sebuah aplikasi chatting terlihat riuh perbincangan mengenai wacana buka bersama (bukber). Ada yang getol mengagendakan dengan sangat detail, mulai pemilihan tempat bukber, memastikan nama-nama peserta yang siap datang, mengonsep acara hingga penentuan besaran iuran. Ada yang terlihat mencari-cari alasan untuk dijadikan kambing hitam sehingga merasa dirinya terhalang mengikuti bukber, akhirnya dia seakan menyesal dengan mengatakan sebenarnya sangat ingin ikut gabung. Ada pula yang cuek, diam dan dingin tapi tak mau ketinggalan mengikuti komentar demi komentar tanpa dia sendiri mau berkomentar, dan ketika dichat pribadi jawabannya hanya "terserah" atau "ngikut aja". Maka, setelah melalui perdebatan sengit mengenai waktu dan tempat serta ube rampenya, akhirnya perbincangan itu diakhiri dengan keputusan bahwa bukber bagaimanapun juga harus dilaksanakan pada waktu dan tempat yang ditentukan.

Ilustrasi Bukber

Bukber sendiri kini sudah menjadi semacam pengakuan, bahwa seseorang yang punya agenda bukber itu seperti memiliki perkumpulan atau relasi yang bisa dibanggakan. Jika seseorang selama tiga puluh hari dalam bulan puasa itu kok tidak ada agenda keluar sekali pun untuk bukber, maka dia akan dianggap kuper alias kurang pergaulan dan perlu dikasihani. Dia pun merasa berhak untuk dibully dan disudutkan. Ah, di bulan puasa selanjutnya dia akan didera ketakutan saat mendengar orang-orang di sekitarnya hendak berangkat bukber dan bersiap mengunggah foto-foto kebersamaan di status media sosial, sedangkan dia hanya bisa meratapi kesendirian. Bukber oh bukber, bukannya setiap orang yang berpuasa selalu bukber (baca:buka bersama) di jam yang sama meskipun di tempat berbeda?

 

Lha kok malah ngelantur ke mana-mana sih tulisan ini. Bukannya judul postingan ini adalah panduan bukber? Ok, maap, maap. Baiklah, berikut ini beberapa rahasia sukses yang bisa diikuti jika sobat Media Karangtengah ingin mengadakan bukber.

1. Usahakan saat bukber jangan pamer

Sudah menjadi watak manusia selalu ingin dianggap hidupnya telah mencapai kesuksesan. Maka, momen kumpul-kumpul, terlebih dengan kawan yang lama tak jumpa selalu digunakan sebagai ajang pamer kesuksesan. Padahal jika kita melihat ada seorang yang suka pamer ini dan itu, malah akan menjadikan semua orang yang lainnya tidak nyaman dan ilfil.

2. Jangan bawa pasangan

Ajang kumpul-kumpul bareng seperti bukber sebisa mungkin dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjalin komunikasi antar teman. Kalau anda membawa pasangan sih sah-sah saja, tapi akan menjadi pemandangan yang kurang sedap jika si pasangan hanya terdiam menyendiri karena tidak nyambung dengan obrolan peserta bukber.

3. Jangan membuat forum di dalam forum

Apa maksudnya? Terkadang dalam sebuah pertemuan besar kita sengaja atau tidak sengaja ngobrol sendiri saking enjoynya sehingga tidak mengikuti dengan baik apa yang sedang menjadi pembahasan umum.

4. Hindari berkomunikasi hanya dengan orang tertentu saja

Adakalanya seseorang hanya bisa ngobrol dengan orang-orang tertentu saja dan kurang bisa membaur dengan teman yang lainnya. Sehingga ia terkesan cuek dan acuh tak acuh, padahal yang dibutuhkan adalah hanya sekadar menyapa saja yang dihiasi dengan sedikit senyuman di ujung bibir.

5. Datang ke lokasi bukber

Ini adalah hal yang terpenting! Tanpa anda datang di acara bukber yang diagendakan, maka keempat panduan di atas akan sia-sia belaka.

2 comments


EmoticonEmoticon