24 June 2018

Kisah Mbah Jabbar Nglirip

Tags

Di Tuban selatan terdapat sebuah makam yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat muslim pada saat perayaan haulnya. Umat islam dari berbagai penjuru nusantara selalu menyempatkan ziyarah ke makam beliau. Adalah mbah kiai Jabbar, salah seorang waliyulloh yang turut menyebarkan ajaran agama islam di daerah Nglirip Singgahan Tuban yang selalu diperingati haulnya di setiap tanggal 17 Suro (Muharram).

Ilustrasi Ulama

Mbah Jabbar dalam sebuah kisah yang diyakini oleh masyarakat setempat masih merupakan keturunan dari para pendiri pondok pesantren Langitan Tuban. Beliau adalah salah seorang murid dari kiai Gaenyong. Beliau juga seorang ulama' yang memiliki sifat tawadhu luar biasa. Saking kesalehannya, maka ketika beliau wafat terpancarlah bau harum yang bersumber dari jasadnya, sehingga membuat masyarakat yang ada di sekitar sana baru menyadari karomah beliau. Di sisi lain, sang guru yakni mbah Gaenyong merasa tinggi hati tatkala melihat kenyataan sedemikian itu. Sehingga ia berkata kepada masyarakat dengan nada kesombongan
"Ini baru murid saya yang meninggal dunia baunya saja sudah harum. Apalagi nanti saya yang meninggal, pasti akan lebih harum lagi. Kalau sampai tidak wangi, silakan jasad saya nanti dibuang dan lempari batu."

Namun, Allah berkehendak lain. Ketika mbah Gaenyong meninggal dunia, ternyata jasadnya malah mengeluarkan aroma yang busuk sehingga masyarakat enggan untuk menguburkannya. Apalagi ketika teringat akan ucapannya ketika masih hidup, maka dikuburlah mbah Gaenyong dengan galian yang dalam dan ditimbuni dengan batu yang banyak agar bau busuk yang keluar itu tidak tersebar lagi. Begitulah Allah memuliakan hambanya yang saleh dan memberikan pelajaran kepada umat manusia agar menghindari sifat sombong. Karena sombong adalah salah satu sifat yang hanya berhak disandang oleh Tuhan yang maha esa.

Dalam kisah yang lain disebutkan bahwa semasa hidupnya mbah Jabbar pernah didatangi oleh tetangganya yang sangat kaya. Orang tersebut mengutarakan maksudnya untuk memberangkatkan mbah Jabbar ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun dengan sifat tawdhu'nya, mbah Jabbar menolak niat si kaya tadi dengan mengatakan bahwa berangkat haji itu tidak mudah. Terlebih pada waktu itu kendaraan masih sulit dan penjalanan haji pulang pergi ke kota Makkah membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan dengan menaiki kapal. Apalagi secara kasat mata fisik Mbah Jabbar sudah lemah sehingga ia menolak dengan mengatakan bahwa tubuhnya tidak kuat lagi melakukan perjalanan jauh. Namun si kaya tetap bersikukuh untuk memberangkatkan mbah Jabbar ke kota Makkah, bahkan dia mengatakan siap menggendong belia setiap kali mbah Jabbar ingin berjalan. Singkat cerita, akhirnya beliau pun menuruti keinginan orang kaya tersebut.

Ketika berada di tengah-tengah samudra, si kaya tadi menggendong mbah Jabbar ke tepi kapal dan seketika itu dengan sekuat tenaga melempar beliau ke lautan. Rupanya orang kaya tadi memiliki niat buruk ingin mencelakakan nyawa mbah Jabbar. Konon, dia merasa sakit hati kepadanya dan bermaksud ingin merebut istrinya mbah Jabbar. Nah, dengan kematian mbah Jabbar di tengah lautan ia berharap bisa mempersunting istrinya.

Ketika sampai di daratan, si kaya bergegas mengunjungi rumah mbah Jabbar untuk berpura-pura menyampaikan belasungkawa ke keluarga mbah Jabbar dengan mengabarkan kematiannya. Tapi alangkah kagetnya si kaya ketika ia mengetuk pintu dan ternyata yang membuka pintu adalah mbah Jabbar sendiri yang telah dibuangnya di lautan. Sehingga si kaya tadi pun lari terbirit-birit pulang ke rumah dengan ketakutan.

Begitullah ketika Allah sudah mengangkat derajat seseorang. Mbah Jabbar yang memiliki sifat tawadhu' luar biasa selalu mengajarkan kepada manusia untuk selalu meninggalkan sifat sombong yang tidak pantas disandangnya. Tak ada satupun makhluk dalam sejarah manusia di muka bumi ini yang memiliki sifat sombong hidupnya berakhir dalam kemuliaan tapi malah terjerumus dalam kehinaan. Wallahu a'lam.

*Dikisahkan oleh K.H. Agus Said saat memberikan ceramah di Karangtengah Jatirogo

Baca juga Mengintip Kegiatan Sedekah Bumi di Desa Karangtengah



EmoticonEmoticon