18 April 2018

Sebuah Renungan, Sudahkah Kita Kritis Pada Tempatnya?

Tags

Di era Milenial ini, kita selalu dimudahkan dengan fasilitas teknologi yang semakin canggih. Informasi dari berbagai sumber akan mudah untuk diakses sehingga memungkinkan bagi setiap orang untuk membagi maupun menerima informasi dengan cepat tanpa ada yang menghalangi (Jika paketan pulsanya terisi). Namun, hal itu akan dihadapkan pada suatu masalah penting, yaitu apakah informasi yang diterima itu benar-benar sesuai dengan kenyataan atau hanya hoaks belaka.

Tak jarang kita menjumpai seseorang yang menggembar-gemborkan sebuah berita yang tidak benar karena ketidak hati-hatiannya dalam memilah informasi. Padahal sesuatu yang dimulai dari sikap marah pasti akan berujung pada rasa malu. Hal inilah yang menuntut kita untuk selalu menyeleksi informasi yang masuk ke kita, dan harus kita kroscek kebenarannya kepada objek informasi apakah benar ataukah salah, yang dalam ilmu agama hal ini disebut dengan tabayun.

Ada seorang yang tak tahu menahu tentang isinya APBDes di suatu desa kemudian dengan gagahnya mengumbar dengan mengatakan bahwa pemerintah desa tersebut telah menyelewenggan penggunanaan anggaran. Dia mengkritisi dengan tajam, ke mana saja uang dari pemerintah yang jumlahnya miliaran rupiah itu kok bangunan di desa hanya ini-ini saja. Mbok yao sekali-kali masuklah ke kantor. Tanyalah dengan etika warga yang baik. Kalau beruntung, selain informasi tentang pendanaan desa anda juga akan mendapatkan suguhan secangkir kopi.

Di desa yang lain, ada yang teriak-teriak menanyakan kapan lingkungannya akan disentuh oleh desa. Mereka menyatakan bahwa kesabaran mereka sudah semakin habis digerogoti oleh janji-janji pemerintah desa. Kalau sudah seperti ini, ucapan dan argumentasi seorang perangkat desa akan dianggap bau karena bersumber dari mulut yang busuk. Hmmm.... pola pikir seperti ini sebaiknya disimpan rapat-rapat dalam lemari terkunci yang diisolasi dalam gudang. Warga yang berpikiran positif akan mengerti bahwa di brangkas desa banyak program bertumpukan yang belum bisa direalisasikan keseluruhannya. Semua butuh waktu dan proses. Tentu ada usulan-usulan yang diprioritaskan.


Di luar itu semua, kita juga tidak memungkiri bahwa penyelenggara pemerintahan desa juga manusia yang tidak selalu memiliki energi positif. Tentunya masih banyak hal-hal yang masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Mungkin jika seandainya Dilan adalah seorang perangkat desa dia akan mengatakan, " Jangan jadi perangkat desa! Jadi perangkat desa itu berat. Biar aku saja."


EmoticonEmoticon