Sunday, May 19, 2019

Materi Yang Diujikan Di Pretest PPG

Para guru menyambut pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan yang melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan gembira. Mereka seperti mendapatkan angin segar dengan terbukanya pretest PPG yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017. Kegembiraan tersebut cukup beralasan mengingat calon peserta PPG dalam jabatan adalah guru yang diangkat deng SK minimal sampai tanggal 31 Desember 2015.


Seleksi akademik pada PPG tahun 2019 akan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) sebagaimana yang digunakan pada pada anak-anak sekolah di saat Ujian Nasional. Adapun waktu seleksi PPG akan dilaksanakan mulai tanggal 20 hingga 25 Mei 2019.

Berikut ini adalah materi yang diujikan dalam seleksi PPG tahun 2019:
  1. Uji Profesional dengan jumlah soal sebanyak 70  selama 60 menit
  2. Uji Pedagogik dengan jumlah soal sebanyak 5  selama 20 menit
  3. Uji Potensi Akademik dengan jumlah soal sebanyak 40  selama 25 menit

Adapun passing grade pada pretest seleksi PPG tahun ini adalah sebesar 60% dari keseluruhan jumlah soal. Sedangkan untuk para guru yang pada tahun sebelumnya belum lolos saat mengikuti tes seleksi akademik bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti tes seleksi PPG pada tahun ini. 

Monday, May 13, 2019

SMK Bina Nusantara Jatirogo Meraih Nilai Tertinggi Ketiga di UN Perdananya

Sekolah Menengah Kejuruan Bina Nusantara (SMK Binus) Jatirogo mampu meraih nilai maksimal saat penyelenggaraan ujian nasional tahun ajaran 2018/2019. Sekolah ini mampu memperoleh peringkat ketiga SMK se-kabupaten Tuban bersaing dengan sekolah-sekolah negeri. Di peringkat pertama dihuni oleh SMKN 1 Tuban, sedangkan di peringkat kedua ada nama SMKN 2 Tuban.

Prestasi ini cukup membanggakan mengingat ujian nasional yang berbasiskan komputer tersebut baru pertama kali diikuti oleh SMK Binus Jatirogo. Mereka baru akan meluluskan anak didik mereka pertama kalinya di tahun ini sebab SMK Binus sendiri baru berdiri tiga tahun yang lalu. Dan kerja keras mereka mampu membuahkan hasil dengan pencapaian peringkat tiga UNBK tingkat SMK se-kabupaten Tuban. 

Siswa SMK binus saat kunjungan industri 

Sekolah yang dipimpin oleh Ummi Ammaroh tersebut memang memiliki progres yang cukup positif. Di awal pendiriannya hingga saat pelaksanaan ujian nasional, ada sepuluh siswa yang duduk di kelas XII. Namun, di jenjang berikutnya jumlah siswa selalu bertambah hingga tiga puluhan siswa per kelasnya. 

Keberhasilan SMK Binus ini disebabkan oleh salah satu faktornya mereka menerapkan sekolah berbasis pondok pesantren. Di samping pembelajaran formal di setiap paginya, sekolah ini juga menyiapkan asrama untuk para siswa agar mereka juga mendapatkan pengetahuan agama secara mendalam. Sekolah model seperti ini yang sekarang cukup banyak diminati di kalangan masyarakat. 

Di awal pendiriannya, SMK Bina Nusantara yang berlokasi di dusun Klangon Wotsogo ini hanya memiliki satu jurusan yaitu Akomodasi Perhotelan. Namun, setelah tiga tahun berjalan, kini SMK Binus telah menambahkan jurusan Pemasaran di kurikulum mereka. Ke depannya mereka tentu ingin menambah berbagai macam jurusan agar bisa menampung minat para siswa yang ingin sekolah di kejuruan .

Tuesday, May 7, 2019

Jadwal Safari Ramadhan Bupati Tuban Tahun 2019

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya yang selalu mengagendakan kegiatan safari Ramadhan, tahun 2019 ini bupati Tuban juga merencanakan kegiatan yang sama. Safari Ramadhan tersebut dilakukan di beberapa tempat yang mencakup seluruh kecamatan yang ada di kabupaten Tuban. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan upaya pendekatan pemimpin yang dilakukan oleh bupati kepada rakyatnya. 


Di tahun 2019 ini pelaksanaan safari ramadhan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama dari sisi lokasi. Kalau di edisi sebelumnya lokasi kegiatan safari ramadhan sering ditempatkan di pendopo kecamatan-kecamatan, maka safari ramadan bupati Tuban tahun 2019 ini lokasinya banyak ditempatkan di balaidesa-balaidesa. Berikut ini adalah rencana jadwal lengkap safari ramadhan bupati Tuban tahun 2019 Masehi atau 1440 Hijriyah:

Tanggal 7 Mei 2019
Kecamatan Bangilan dan Senori
Di Balaidesa Ngrojo

Tanggal 8 Mei 2019
Kecamatan Kenduruan dan Jatirogo 
Di Balaidesa Sokogunung 

Tanggal 9 Mei 2019
Kecamatan Singgahan dan Parengan
Di Balaidesa Mulyorejo

Tanggal 10 Mei 2019
Kecamatan Jenu dan Merakurak 
Di Wisata Mangrove Sugihwaras 

Tanggal 13 Mei 2019
Kecamatan Rengel dan Soko
Di Balaidesa Karangtinoto

Tanggal 14 Mei 2019
Kecamatan Grabagan dan Semanding
Di Wisata Puncak Tapan Andongsari

Tanggal 15 Mei 2019
Kecamatan Widang dan Plumpang
Di Balaidesa Mrutuk

Tanggal 16 Mei 2019
Kecamatan Bancar dan Tambakboyo 
Di Balaidesa Cingklung

Tanggal 17 Mei 2019
Kecamatan Tuban dan Palang
Di Kelurahan Perbon

Tanggal 20 Mei 2019
Kecamatan Kerek dan Montong
Di Balaidesa Wolutengah

Dalam kegiatan safari ramadhan, selain sebagai ajang silaturrahmi antara pemerintah dengan masyarakat juga digunakan bupati untuk menyampaikan semua hasil capaian-capaian pemerintah. Di samping itu juga dimanfaatkan untuk menjaring aspirasi dari seluruh lapisan masyarakat. 

Saturday, May 4, 2019

Difor KPH Kebonharjo, Alternatif Wisata Baru Di Jatirogo

Di kota Jatirogo terdapat sebuah tempat wisata yang cukup diminati oleh para pecinta fotografi. Tempat tersebut bernama Discovery Of Forest atau biasa dikenal dengan Difor Perhutani KPH Kebonharjo. Mengapa disukai oleh masyarakat yang hobi berfoto? Hal tersebut dikarenakan pengunjung dapat menikmati pemandangan yang sejuk nan rindang karena banyaknya pepohonan besar di dalamnya (memang dulunya di sini merupakan sebuah tempat untuk penebangan kayu atau TPK). Di samping itu, pihak pengelola menyediakan beberapa spot bagi pengunjung untuk berselfie ria.

Ada satu tempat di lokasi TPK yang cukup terkenal dan viral di media sosial yaitu rumah pohon Jatirogo. Dikatakan  sebagai rumah pohon dikarenakan rumah tersebut sengaja dibangun dengan kondisi bergelantungan di atas pohon. Siapapun yang sudah naik ke rumah pohon pasti tak akan melewatkan diri untuk berfoto-foto. Pihak pengelola mematok harga lima ribu rupiah bagi pengunjung yang ingin masuk ke dalam rumah tersebut.


Lokasi Difor Jatirogo ini mudah dijangkau oleh siapapun yang ingin datang ke sana karena letaknya yang berada di tengah-tengah kota Jatirogo. Pengunjung bisa langsung menuju ke lokasi TPK Kebonharjo atau bisa juga menuju terminal bus Jatirogo karena Difor ini berada tepat di sebelah selatannya. Pengunjung yang masuk, akan dikenai tiket masuk sebesar dua ribu rupiah per orangnya, kecuali jika ada even-even tertentu di dalamnya, maka akan dikenai tarif yang berbeda.

Memang belum banyak wahana yang disiapkan oleh pengelola di area Difor KPH Kebonharjo karena kawasan tersebut masih dalam tahap pengembangan yang belum selesai seratus persen. Melihat lokasi yang begitu luas, maka tempat wisata ini berpotensi menjadi destinasi para wisatawan di masa yang akan datang. Hingga saat ini masih banyak terlihat semak belukar yang belum tersentuh pembangunan. 


Meskipun demikian, beberapa wahana yang ada sudah cukup bisa dinikmati oleh para pengunjung seperti kolam perahu bebek, flying fox, all terrain vehicle dan lain-lain. Di sana juga terdapat beberapa satwa yang dipertontonkan kepada pengunjung seperti ular sanca, monyet, kelinci, luwak dan berbagai jenis burung. Namun yang paling diminati adalah spot selfinya yang terkadang digunakan pengunjung untuk foto prewedding.

Friday, May 3, 2019

Santri Ponpes Assalam Bangilan Membuat Panggung Akhirussanah Level Nasional

Setiap tahun, lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia selalu mengadakan acara perpisahan bagi siswa-siswi yang telah lulus masa pendidikannya. Begitu juga dengan Assalam Bangilan Tuban, pondok pesantren ini juga memiliki agenda perpisahan bagi para santri yang dibalut dengan kegiatan haflah akhirussanah.

Seluruh tahapan dari kegiatan haflah atau perayaan itu dikerjakan sendiri oleh para santri, mulai dari penggalangan dana, penentuan konsep acara, desain panggung hingga beberapa hal kecil yang lainnya.  Meskipun mereka masih berada dalam usia sekolah, namun mereka berusaha secara mandiri untuk mampu menyelesaikan sebuah even besar dengan memikul tanggung jawab yang besar pula. Para santri itu belajar dari pengalaman senior mereka di tahun sebelumnya yang juga menyelenggarakan kegiatan yang sama.


Haflah akhirussah pondok pesantren yang diasuh oleh K.H. Yunan Jauhar tersebut selama ini mampu menjadi magnet yang bisa menarik ribuan masyarakat untuk hadir di halaman pondok. Mereka yang datang tidak hanya dari masyarakat Bangilan saja, namun juga dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Maklum, Ponpes Assalam Bangilan Tuban ini memiliki ribuan alumni dan santri yang berasal dari sejumlah kota, bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa dan luar negeri. 

Pengunjung yang datang selalu penasaran dengan panggung megah yang dibuat para santri di tiap tahunnya. Kemegahan panggung ini jarang sekali ditemukan di even yang sama di lembaga lain. Bahkan, panggung yang dikreasikan oleh anak-anak ini disebut-sebut sudah mencapai level atau standar nasional. Para santri tidak mau mengikuti kecenderungan masyarakat umum yang setiap kali ada kegiatan semacam ini, dengan simpel cukup membuat background yang berupa banner cetakan.


Panggung dengan background megah yang disajikan kepada hadirin itu tidak dikerjakan secara instan, tapi melalui proses dan waktu yang panjang. Latar belakang yang berbahan dasar triplek itu dibuat berhari-hari oleh tangan-tangan santri yang kreatif. Begitu pula dengan sejarahnya, bahwa keberhasilan para santri membuat tampilan panggung tiga dimensi ini diawali oleh background-background sederhana pada zaman dulu hingga akhirnya selalu berkembang di tiap tahunnya. Itulah alasan mengapa santri diberi kepercayaan penuh untuk menyalurkan ide kreatif mereka. 

Pondok pesantren Assalam juga mampu mengombinasikan dua miliu yang berbeda di haflah, yakni penampilan yang disuguhkan dari pesantren putra dan pesantren putri. Keduanya digabungkan dalam satu even dengan cukup apik meskipun satu panggung dengan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai luhur keislaman. Hal yang selama ini terkadang diabaikan oleh masyarakat lain pada umumnya.

Sunday, April 28, 2019

Beberapa Hal Berikut Ini Yang Dikangeni Di Bulan Puasa

Sebentar lagi bulan puasa tiba. Umat islam menyambut kedatangan bulan suci tersebut dengan penuh suka cita. Lima belas hari menjelang kedatangannya, mayoritas umat muslim yang ada di daerah Jawa sudah merayakannya dengan membuat masakan ketupat yang dibalut dalam peringatan nishfu sya'ban. Hal itu kemudian berlanjut dengan tradisi mapak poso yang dilakukan dengan bersedekah membuat berkatan di masing-masing rumah secara bergantian dalam satu lingkungan. 


Bulan puasa memang bulan yang sangat dinantikan. Ketika sudah memasuki bulan suci ini, kegiatan keagamaan intensitasnya selalu ditingkatkan mengingat bahwa pahala dari amal yang dilakukan pada bulan ini akan dilipatgandakan. Namun, ada beberapa hal di luar urusan ibadah yang sudah menjadi semacam kebiasaan yang oleh masyarakat menjadi keharusan untuk ada atau harus dilakukan di bulan Ramadan tersebut. Berikut ini adalah beberapa hal yang cukup mewarnai bulan Ramadan dan menjadi tradisi di masyarakat:

1. Ngabuburit 

Entah siapa yang pertama kali membuat istilah ngabuburit ini. Ngabuburit bisa diartikan sebagai kegiatan keluar rumah untuk melakukan sesuatu atau sekadar melihat-lihat suasana di sore hari sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Ada yang mengisi kegiatan ngabuburit dengan berbagai macam olahraga ringan, bersepeda hingga berbelanja makanan untuk persiapan buka puasa. Dan istilah ngabuburit hanya ada di bulan puasa. 

2. Berburu takjil

Tidak dipungkiri, banyak masyarakat yang berusaha meningkatkan keimanannya di bulan suci ini yang salah satu caranya adalah mereka memperbanyak sedekah. Mereka akan menjadi donatur di kegiatan pengajian menjelang berbuka puasa yang dilaksanakan di masjid-masjid. Mereka akan memberikan bantuan makan/minum untuk buka puasa yang biasa disebut takjil bagi orang yang ingin berbuka di masjid. 

Banyaknya donatur yang menyiapkan takjil juga sejalan dengan banyaknya orang yang berburu takjil. Mereka berburu takjil bukan berarti tidak ada yang bisa dimakan untuk berbuka puasa di rumah, namun sensasi dari berburu takjil ini hanya ada di bulan puasa. 

3. Membangunkan orang untuk sahur dengan tongklek 

Ini adalah kegiatan yang disenangi oleh anak-anak di malam bulan puasa. Mereka akan menabuh berbagai peralatan seadanya yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan bebunyian yang cukup untuk membangunkan orang dari tidurnya. Meskipun sebenarnya cukup mengganggu karena dilakukan pada dini hari, namun masyarakat yang terbangun karena suara tongklek tetap menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Dan ini hanya terjadi di bulan puasa. 

4. Ngaji tadarus Quran disuguhi gorengan 

Selepas shalat tarawih, masjid maupun musala-musala akan selalu ramai dengan kegiatan tadarus Quran. Lewat pengeras, suara bacaan alquran seakan saling bersahutan. Di sela-sela membaca alquran tadi, terhidang berbagai macam makanan ringan yang berasal dari kiriman warga sekitar sehingga si pembaca menjadi betah membaca alquran hingga larut malam. Dan momen seperti ini hanya terjadi di bulan puasa. 

5. Main petasan 

Anak-anak akan menghabiskan waktu puasa dengan kegiatan agar mereka melupakan rasa lapar dan haus yang melanda. Salah satu caranya adalah mereka membuat petasan atau mercon dan kemudian meledakkannya. Alasan lain dari permainan petasan ini adalah untuk menyemarakkan dan menunjukkan bahwa inilah bulan puasa, karena jarang ada anak bermain petasan atau mercon di luar bulan puasa. Namun, karena alasan keamanan dan keselamatan, maka bulan puasa di tahun-tahun sekarang ini harus dilalui tanpa menyalakan petasan. 

6. Kolak tape

Bagi masyarakat Jawa, membuat kolak di bulan puasa sudah menjadi semacam menu yang tak terpisahkan untuk berbuka puasa. Entah itu kolak tape, kacang hijau, pisang maupun yang lainnya. Ini adalah menu di waktu dulu, sebelum kurma menyerbu pasaran masyarakat desa. Namun yang pasti, kolak mampu menghilangkan dahaga setelah seharian kerongkongan tidak dialiri air sama sekali. Dan lagi yang pasti, kolak cukup mengingatkan kita akan bulan puasa. 

7. Jalan-jalan sehabis sahur/subuh

Beberapa remaja, baik putra maupun putri memanfaatkan waktu sehabis subuh di bulan puasa untuk jalan-jalan pagi bersama kawan-kawannya. Mereka akan menyesali paginya yang terlewatkan karena ketiduran. Barangkali mereka berharap bertemu dengan doinya yang juga sama barjalan-jalan di pagi bulan puasa. 

8. Sahur dan berbuka bersama 

Tak banyak keluarga yang sehari-harinya bisa berkumpul untuk selalu bisa makan bersama. Nah, di bulan puasa ini kebersamaan untuk duduk makan bersama anggota keluarga peluangnya sangat besar mengingat jam makan ditentukan oleh waktu. Kebersamaan ini menjadi salah satu kekuatan pondasi dalam keluarga. Meskipun di luar bulan puasa seseorang bisa melakukan acara makan bareng, namun hanya di bulan puasa dikenal istilah bukber atau buka bersama. 

Beberapa poin di atas adalah sebagian hal yang selalu menjadikan umat muslim merindukan datangnya bulan puasa. Anda bisa memiliki pendapat yang berbeda.

Saturday, April 27, 2019

Puskesmas Kebonharjo Bangun Paradigma Baru Tentang Kesehatan

Pada hari Kamis, 25 April 2019, Puskesmas Kebonharjo mengadakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pendataan Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga (PIS PK). Acara monitoring tersebut dimulai pukul setengah sepuluh dan berakhir pada pukul dua belas siang. Selain dihadiri oleh Camat Jatirogo dan Danramil, kegiatan itu diikuti oleh sembilan kepala desa yang ada di kecamatan Jatirogo serta pengurus PKK, Muslimat maupun Aisiyah di kecamatan Jatirogo bagian barat. 

Saat membuka acara, kepala puskesmas Kebonharjo, Budi Utomo menyampaikan harapannya kepada seluruh masyarakat khususnya yang ada di kecamatan Jatirogo barat agar mengubah paradigma yang selama ini ada pada diri mereka. Paradigma tersebut adalah kuatnya anggapan di masyarakat bahwa setiap ada orang yang pergi ke puskesmas atau rumah sakit, pasti orang tersebut adalah warga yang sedang sedang sakit yang membutuhkan perawatan. Nah, anggapan inilah yang ke depannya ingin diubah oleh dinas kesehatan, bahwa puskesmas maupun rumah sakit tidak hanya merupakan tempat bagi orang yang sakit saja, tapi juga menjadi tempat berkunjungnya orang sehat yang ingin mengonsultasikan kesehatannya. 


Hal tersebut di atas sejalan dengan program pemerintah yang berupaya meningkatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tentu saja dengan kemauan masyarakat untuk rutin datang ke puskesmas secara berkala di saat mereka sehat akan mampu mendeteksi segala keluhan terhadap gangguan kesehatan yang ada. Dan inilah yang dikatakan bahwa mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. 

Dalam evaluasi PIS PK tersebut, pihak puskesmas Kebonharjo menyajikan beberapa data yang didapatkan dari pendataan yang dilakukan di desa-desa yang ada di kecamatan Jatirogo barat. Data tersebut di antaranya adalah pelaksanaan program KB, keselamatan proses persalinan pada ibu hamil, penggunaan rokok dan obat-obatan terlarang, jambanisasi dan lain sebagainya. 

Wednesday, April 10, 2019

41 Orang Mendaftar Calon Kades Di 15 Desa Di Kecamatan Jatirogo

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di kabupaten Tuban akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 10 Juli 2019. Seluruh desa yang memiliki agenda Pilkades telah membentuk panitia dan telah melaksanakan berbagai tahapannya, seperti sosialisasi pilkades, penetapan daftar pemilih hingga proses pendaftaran bakal calon kepala desa.

Begitu juga desa-desa yang ada di kecamatan Jatirogo. Ada lima belas desa yang akan menyelenggarakan pilkades di tahun 2019 ini. Dan hingga pada hari terakhir pendaftaran bakal calon  Kepala Desa (Balon Kades) yang ditutup pada hari Senin kemarin (8/04/19) terdapat empat puluh satu orang yang menyerahkan berkas pendaftaran di panitia masing-masing desa.

Berikut ini adalah nama-nama bakol calon kepala desa di kecamatan Jatirogo:

Kebonharjo:
  • Masrur
  • Muchammad Buchori
  • Triman

Ketodan:
  • Supriyanto
  • Supriyono

Karangtengah:
  • Sujati
  • Basuki Rahmad
  • Sunardi Rusdiana

Bader:
  • Didik Surahmad
  • Basuki, S.E.

Besowo:
  • Saifudin
  • Sri Wahyuningsih
  • Tarmudji

Jombok:
  • Sudir
  • Tulus
  • Wipranoto

Sadang:
  • Suci Arini
  • Suharno
  • Sugito

Ngepon:
  • Moch. Ali Mansyur
  • Kusyanto
  • Rohmadi

Sugihan:
  • Ngasirun
  • Basuki
  • Imam

Sidomulyo:
  • Rochmawati
  • Willy Efendi
Kedungmakam:
  • Sutikno
  • Rusmi

Demit:
  • Romelah
  • Irkhamni
  • Sutji

Jatiklabang:
  • Suko Supriyono
  • Dami
  • Santoso

Sekaran:
  • Ageng Wahono
  • Edi Cahyono
  • Teguhariyono

Dingil:
  • Wantono 
  • Tawar




Dengan terpenuhinya jumlah syarat minimal pendaftar bakal calon kepala desa di kecamatan Jatirogo, maka bisa dipastikan bahwa panitia pilkades yang ada di kecamatan Jatirogo tidak membuka pendaftaran calon kades untuk gelombang kedua. Sehingga keempat puluh satu orang yang telah mendaftarkan diri tersebut berhak mengikuti tahapan pilkades selanjutnya. 

Sunday, March 31, 2019

Sedikit Lebih Dekat Dengan Inkago Art Jatirogo

Belakangan ini muncul sebuah komunitas pemuda di kota Jatirogo yang cukup mencuri perhatian di dunia perindustrian kabupaten Tuban. Komunitas tersebut bernama Inkago Art yang merupakan akronim dari Industri Kreatif Anak Muda Ronggolawe Tuban. Banyak masyarakat di kabupaten Tuban yang cukup penasaran dengan keberadaan komunitas tersebut karena mereka cukup eksis di media sosial. 


Komunitas tersebut bukanlah sebuah komunitas yang didirikan hanya untuk sekadar kongkow semata. Namun lebih dari itu, komunitas tersebut merupakan perkumpulan para pemuda yang dengan kreativitasnya mereka berkarya dengan menuangkan ide-ide ke dalam bidang kerajinan tangan. Sehingga darinya menghasilkan barang-barang bernilai ekonomis yang bisa mendatangkan penghasilan. 

Banyak kerajinan tangan yang telah dan akan terus mereka garap serta tawarkan kepada masyarakat. Karya yang mereka kerjakan kebanyakan didominasi oleh barang-barang yang berbahan dasar kayu. Seperti replika berbagai macam benda, jam kayu bergambar, foto ukiran kayu, gantungan kunci, lampu hias, grafir kaca led, dll. Mereka melayani berbagai pesanan masyarakat, baik yang datang langsung ke lokasi tempat produksi maupun yang memesan barang secara online. 


Ada satu motto yang sering mereka gunakan untuk mempromosikan hasil karya mereka kepada masyarakat. Motto tersebut adalah kata-kata yang berbunyi "Abadikan momen indah dengan seni". Dengan motto tersebut, mereka mengajak kepada para penikmat karya Inkago Art Jatirogo untuk selalu mengabadikan dan mengekalkan kenangan indahnya (yang umumnya berupa foto) ke dalam kerajinan tangan hasil kerja keras anak-anak Inkago Art. Mereka juga mengajarkan kepada masyarakat bahwa barang-barang yang selama ini dianggap tidak berguna bisa dibuat menjadi kerajinan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomis. 

Hasil karya anak-anak Inkago Art tersebut saat ini sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas, tak hanya Jatirogo saja namun juga sudah mulai menyentuh kota Tuban. Mereka sendiri bahkan pernah mendapatkan berbagai macam penghargaan dari beberapa instansi termasuk Pemerintah Kabupaten. Adanya penghargaan itulah yang turut menjadi motivasi bagi pemuda Inkago Art Jatirogo untuk selalu berkarya.


Hasil manis itu mereka capai karena selain mereka bekerja keras di dalam produksi kerajinan, mereka juga terhitung aktif mengikuti berbagai macam kegiatan pameran UMKM yang diadakan. Sehingga peluang bagi komunitas Inkago Art untuk bisa berkembang dan bersaing di dunia industri terbuka lebar. Namun, mereka mengatakan bahwa yang tak kalah penting dari itu semua adalah keberadaan Inkago Art Jatirogo mampu menjadi solusi dari masalah masih tingginya angka pengangguran di masyarakat. 

Baca juga Layanan Administrasi Kependudukan Online, Siapkah?

Friday, March 29, 2019

Sukses Dengan Bakti Sosial Ramadhan, Sekdes Jatirogo Adakan Baksos Jilid II

Setelah sukses melaksanakan kegiatan bakti sosial pada bulan Ramadan tahun 2018 lalu, sekretaris desa yang ada di kecamatan Jatirogo menggelar kegiatan serupa di bulan Maret 2019. Kegiatan tersebut berupa pemberian sembako kepada sejumlah warga kurang mampu yang sumber pendanaannya berasal dari sumbangsih para sekretaris desa (sekdes) se-kecamatan Jatirogo. 


Sasaran kegiatan baksos yang kedua ini adalah warga kurang mampu yang ada di dua desa di kecamatan Jatirogo, yakni Wangi dan Paseyan. Para sekdes tersebut menyerahkan 13 paket bantuan berisi kebutuhan dapur senilai sekitar 150 ribu rupiah per paketnya. Bantuan tersebut murni diberikan kepada masyarakat penerima tanpa ada kepentingan politik terselubung di dalamnya. Hal tersebut disampaikan oleh para sekdes kepada masyarakat yang bertanya-tanya tentang motif kegiatan baksos, mengingat bulan-bulan ini adalah bulan yang penuh dengan agenda perpolitikan seperti pemilu dan pilkades. 

Winda Wahyu Saputra, Sekdes Besowo Kecamatan Jatirogo mengatakan bahwa baksos ini dilakukan untuk bisa sedikit berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang kurang mampu. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi media untuk para sekdes agar bisa lebih dekat lagi dengan masyarakat dengan melihat langsung kondisi ekonomi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga dengan seperti itu, mereka bisa berintrospeksi diri dan akhirnya meningkatkan kinerja pelayanan mereka serta menumbuhkan rasa syukur mereka kepada tuhan yang maha esa. 



Meskipun kegiatan bakti sosial tersebut diberi nama dengan dengan Bakti Sosial Sekdes Wolulas yang artinya adalah kegiatan tersebut dijalankan para sekdes/carik se-kecamatan Jatirogo, namun mereka membuka dan mengajak kepada masyarakat luas yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah sosial. Sehingga, apabila ada masyarakat yang mau bergabung dengan ikut menjadi donatur kegiatan baksos tersebut, para sekdes akan menerima dengan sepenuh hati. Di samping itu, mereka juga menerima apabila ada usulan masyarakat terkait calon penerima bantuan sosial. 

Baca juga Ramadhan Berbagi Bersama Sekdes Jatirogo